JURNAL PENYAKIT DISLEKSIA PDF

Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat Abstrak Pembahasan yang akan dibahas dalam makalah ini ada empat, yaitu: 1 apa itu disleksia, 2 penyebab dan gejala disleksia, 3 ciri-ciri anak yang mengalami disleksia, dan 4 cara mengatasi disleksia pada anak. Deskripsi konseptual membuktikan orang tua perlu mengenal apa itu disleksia, agar dapat menghindari dan mengantisipasi anak-anak mereka dari gangguan berbicara khususnya disleksia. Kata-kata kunci: gangguan berbicara, disleksia A. Pengantar Membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi otak manusia dari semua makhluk hiduop di dunia ini, cuma manusia yang dapat membaca.

Author:Mira Kazilkis
Country:Cyprus
Language:English (Spanish)
Genre:Technology
Published (Last):19 November 2009
Pages:105
PDF File Size:11.12 Mb
ePub File Size:19.34 Mb
ISBN:486-3-88251-805-1
Downloads:91187
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Marr



Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat Abstrak Pembahasan yang akan dibahas dalam makalah ini ada empat, yaitu: 1 apa itu disleksia, 2 penyebab dan gejala disleksia, 3 ciri-ciri anak yang mengalami disleksia, dan 4 cara mengatasi disleksia pada anak.

Deskripsi konseptual membuktikan orang tua perlu mengenal apa itu disleksia, agar dapat menghindari dan mengantisipasi anak-anak mereka dari gangguan berbicara khususnya disleksia. Kata-kata kunci: gangguan berbicara, disleksia A. Pengantar Membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi otak manusia dari semua makhluk hiduop di dunia ini, cuma manusia yang dapat membaca.

Anak-anak dapat membaca sebuah kata ketika usia mereka satu tahun, sebuah kalimat ketika berusia dua tahun, dan sebuah buku ketika berusia tiga tahun dan mereka menyukainya. Kelainan ini disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menghubungkan antara lisan lisan dan tertulis, atau kesulitan mengenal hubungan antara suara dan kata secara tertulis.

Gejalanya, anak memiliki kemampuan membaca di bawah kemampuan yang seharusnya dilihat dari tingkat inteligensi, usia, dan pendidikannya. Jika pada anak normal kemampuan membaca sudah muncul sejak usia enam atau tujuh tahun, tidak demikian pada anak yang mengalami disleksia. Sampai usia 12 tahun terkadang mereka masih belum lancar membaca.

Kesulitan ini dapat dideteksi ketika anak memasuki bangku sekolah. Berkaitan dengan hal tersebut dalam makalah ini akan di bahas empat hal. Hal-hal itu adalah: 1 apa itu disleksia, 2 penyebab dan gejala disleksia, 3 ciri-ciri anak yang mengalami disleksia, dan 4 cara mengatasi disleksia pada anak. Pembahasan 1. Apa Itu Disleksia? Istilah disleksia berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys yang berarti sulit dan lex berasal dari legein, yang artinya berbicara.

Jadi secara harfiah, disleksia berarti kesulitan yang berhubungan dengan kata atau simbol-simbol tulis. Kelainan ini disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menghubungkan antara lisan dan tertulis, atau kesulitan mengenal hubungan antara suara dan kata secara tertulis. Bryan dan Bryan dalam Abdurrahman, , menyebut disleksia sebagai suatu sindroma kesulitan dalam mempelajari komponen-komponen kata dan kalimat, mengintegrasikan komponen-komponen kata dan kalimat dan dalam belajar segala sesuatu yang berkenaan dengan waktu, arah, dan masa.

Disleksia adalah gangguang akan ketidakmampuan membaca, yaitu ketidakmpuan membaca anak berada di bawah kemampuan seharusnya, dengan mempertimbangkan tingkat inteligensi, usia, dan pendidikannya. Gangguan ini bukan bentuk dari ketidakmampuan fisik, seperti masalah penglihatan, tetapi mengarah pada bagaimana otak mengolah dan memproses. Setelah anak memasuki usia sekolahnuntuk beberapa waktu.

Rahayu, 45 Menurut T. Harris dan R. E Hodges Corsini, 44 disleksia mengarah pada anak yang tidak dapat membaca sekalipun penglihatan, pendengaran intelegensinya normal, dan keterampilan usia bahasanya sesuai. Disleksia ditandai dengan adanya kesulitan membaca pada anak maupun dewasa yang seharusnya menunjukkan kemampuan dan motivasi untuk membaca secara fasih dan akurat.

Disleksia adalah gangguan yang paling sering terjadi pada masalah belajar. Angka kejadian disleksia lebih tinggi pada anak laki-laki dibandingkan dengan perempuan yang berkisar sampai Adapun Hornsby 9 mentakrifkan disleksia sebagai bentuk kesulitan belajar membaca dan menulis terutama belajar mengeja mengujar secara betul dang mengungkapkan pikiran secara tertulis, dan ia telah pernah memanfaatkan sekolah normal serta tidak memperlihatkan keterbelakangan dalam mata pelajaran lainnya.

Berdasarkan penjelasan tersebut diperoleh gambaran bahwa disleksia adalah suatu kondisi pemrosesan informasi yang berbeda dari anak normal yang sering ditandai dengan kesulitan dalam membaca, yang dapat mempengaruhi area kognisi seperti daya ingat, kecepatan pemprosesan input, kemampuan pengaturan waktu, aspek koordinasi dan pengendalian gerak.

Penyebab atau Gejala Disleksia Disleksia disebabkan oleh adanya masalah di bagian otak, yang mengatur proses belajar. Faktor genetik atau keturunan juga berperan. Misalnya, jika seorang ayah susah membaca atau mengalami disleksia, bukan tidak mungkin si anak akan mengalami kesulitan serupa.

Meskipun belum ada yang dapat memastikan penyebab disleksia ini, penelitian-penelitian menyimpulkan adanya tiga faktor penyebab disleksia, yaitu: 1 faktor keturunan, 2 faktor pendengaran sejak usia dini, dan 3 faktor kombinasi atau dua faktor 1 dan 2.

Sedangkan gejala disleksia adalah pertama, kurangnya memori verbal untuk mengingat urutan informasi secara lisan dalam jangka waktu singkat, semacam perintah singkat seperti menaruh tas kemudian mencuci tangan. Kedua, kesulitan dalam mengurutkan dan mengucapkan sesuatu dalam kata-kata, misalnya urutan angka, menamai warna-warna atau benda.

Dan ketiga, kesulitan memproses informasi lisan, misalnya saat mencatat nomor telepon atau didikte. Pada anak balita disleksia dapat dikenali melalui perkembangan bicara lebih lamban dibandingkan anak-anak sesusianya dan membutuhkan waktu lama untuk belajar kata baru. Kesulitan menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan diri dan kurang memahami kata-kata yang memiliki rima. Ciri-Ciri Anak yang Mengalami Disleksia Gangguan disleksia baru dapat terdeteksi setelah anak memasuki dunia sekolah untuk beberapa waktu, seperti halnya anak-anak yang baru memasuki sekolah TK, kemampuan membaca anak yang baru memasuki TK tidak menjadi tuntutan untuk di haruskan disleksia sangat sulit diketahui sejak usia dini.

Adapun ciri-ciri anak disleksia adalah: a. Tidak dapat mengucapkan irama kata-kata secara benar dan proposional. Kesulitan dalam mengurutkan huruf-huruf dalam kata. Sulit menyuarakan fonem satuan bunyi dan memadukannya menjadi sebuah kata. Sulit mengeja kata atau suku kata dengan benar. Bisa terjadi anak dengan gangguan ini akan terbalik-balik membunyikan huruf, atau suku kata. Membaca suatu kata dengan benar di satu halaman, tetapi keliru di halaman lainnya, dan lupa meletakkan titik dan tanda-tanda seperti koma, tanda seru, tanda tanya, dan tanda baca lainnya.

Bermasalah ketika harus memahami apa yang harus dibaca. Ia mungkin bisa membaca dengan benar, tapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Lupa mencantumkan huruf besar atau mencantumkannya pada tempat yang salah. Keliru pada kata-kata yang singkat, serta bingung menentukan harus menggunakan tangan yang mana untuk menulis.

Menulis huruf dan angka dengan hasil yang kurang baik. Serta terdapat jarak pada huruf-huruf dalam rangkaian kata. Anak dengan gangguan ini biasanya menulis dengan tidak stabil, tulisannya kadang naik dan kadang turun. Anak-anak baru bisa didiagnosis disleksia atau tidak saat anak di usia SD, yaitu sekitar tahun. Karena di usia balita seorang anak belum ditargetkan untuk bisa membaca. Penemuan para ahli memperlihatkan bahwa perbedaan variasi tersebut begitu nyata, hingga tidak ada satu kriteria yang betul-betul cocok semuanya terhadap ciri-ciri seorang anak disleksia.

Sangat diperlukan bantuan ahli psikolog untuk menemuka pemecahan yang tepat. Bagi penderita disleksia anak-anak, penelitian menunjukkan bahwa intervensi edukasi paling efektif jika diberikan sebelum anak mencapai usia delapan tahun.

Penderita disleksia diajarkan mengenali fonem atau satuan bunyi terkecil dalam kata-kata, memahami huruf dan susunan huruf yang membentuk bunyi tersebut, memahami apa yang dibaca, membaca bersuara, dan membangun kosa kata. Selain intervensi edukasi, orang tua juga harus berperan penting dalam meningkatkan kemmapuan anak.

Langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah membacakan buku yang menarik minat anak. Kegiatan ini dapat dilakukan berulang kali sampai anak terbiasa dengan teks dalam buku.

Orang tua dianjurkan untuk tidak mencela anaknya jika melakukan suatu kesalahan. Berikut cara-cara mengatasi disleksia dengan menggunakan berbagai metode berikut, yaitu: a. Metode Multy-Sensory Dengan metode yang terintegrasi, disini anak akan diajarkan mengeja tidak hanya berdasarkan apa yang didengarnya lalu diucapkan kembali, tapi juga memanfaatkan kemampuan memori visual penglihatan serta taktil sentuhan.

Dalam prakteknya, mereka diminta menuliskan huruf-huruf di udara dan di lantai, membentuk huruf dengan lilin plastisin , atau dengan menuliskannya besar-besar di lembaran kertas. Cara ini memungkinkan terjadinya asosiasi antara pendengaran, penglihatan, dan sentuhan. Sehingga mempermudah otak bekerja dengan mengingat kembali huruf-huruf. Membangun Rasa Percaya Diri Gangguang disleksia pada anak-anak sering tidak dipahami dan diketahui dalam lingkungannya, termasuk orang tuanya sendiri.

Akibatnya, mereka cenderung dianggap bodoh dan lamban dalam belajar karena tidak bisa membaca dan menulis dengan benar, seperti kebanyakan anak-anak lain.

Oleh karena itu, mereka sering dilecehkan, diejek, ataupun mendapatkan perlakuan negatif, sementara kesulitan itu bukan disebabkan kemalasan. Alangkah baiknya, jika orang tua dan guru peka terhadap kesulitan anak. Dari situ dapat dilakukan deteksi dini untuk mencari tahu faktor penghambat proses belajarnya.

Setelah ditemukan, tentu bisa diputuskan strategi yang efektif untuk mengatasinya. Mulai dari proses pengenalan dan pemahaman sederhana, hingga permainan kata dan kalimat dalam buku-buku cerita sederhana. Terapi Saat anak-anak diketahui mengalami disleksia, patut diberikan terapi sedini mungkin, seperti terapi mengulang dengan penuh kesabaran dan ketekunan membantu si anak mengatasi kesulitannya.

Anak-anak yang mengalami disleksia sering merasakan tidak dapat melakukan atau menghasilkan yang terbaik seperti yang mereka inginkan. Anak-anak tertentu, khusunya disleksia tidak akan pernah mampu membaca dengan kecepatan tinggi dan akan selalu mengalami kesulitan mengembangkan kemampuan mengeja yang sesuai usia.

Disleksia dipandang sebagai gangguan biologis yang dimanifestasikan dengan kesulitan dalam belajar membaca dan mengeja walaupun diberi pengajaran konvensional dan memiliki kecerdasan yang memadai. Penutup Mengenal gangguang berbicara khususnya disleksia bagi anak-anak sangat perlu dilakukan orang tua agar dapat mengatasi dan mengantisipasi sedini mungkin gangguan ini. Disleksia adalah kesulitan yang berhubungan dengan kata atau simbol-simbol tulis. Jika dibiarkan berlarut-larut anak-anak akan sulit melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan membaca dan mengeja.

Sampai usia remaja pun mereka akan sulit untuk menghadapinya hingga akhirnya psikologi mereka pun akan terganggu. Oleh sebab itu, orang tua perlu mengenal apa itu disleksia, penyebabnya, gejalanya, dan cara mengatasi anak-anak yang sudah mengalami disleksia.

Disleksia tidak dapat disembuhkan, tapi pendeteksian dan penanganan dini terbukti sangat mebantu dalam meningkatkan kemampuan penderita, khususnya membaca. Penanganan disleksia membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Karena itu, keluarga serta penderita dianjurkan untuk bersabar menjalaninya.

Dukungan serta bantuan dari keluarga serta teman dekat akan sangat membantu. Referensi Abdurrahman, Mulyono. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Observasi dan Wawancara. Malang: Bayumedia.

DM74LS47N DATASHEET PDF

Jurnal Psikolinguistik: Gangguan Berbicara Disleksia

Mereka pandai dalam bidang seni. Semasa membaca, mereka perlu menggunakan jari untuk membaca dan juga untuk mengira. Kanak-kanak disleksia minat belajar dan nampak pandai, namun mereka lemah dalam pelajaran kerana sukar untuk dikuasai. Jika mereka gagal disekolah, mereka akan sangat kecewa. Selain itu, mereka selalu jatuh clumsy dan terlupa nama benda-benda. Mereka juga sering berhadapan dengan bentuk emosi yang tidak menentu moody tanpa sebab-sebab tertentu. Sri Cempaka juga memberi ciri-ciri secara khusus berdasarkan kemahiran-kemahiran asas bahasa, namun ciri-ciri ini akan dibincangkan kemudian, iaitu daripada 2.

BTBMI 2010 PDF

Jurnal Doc : contoh checklist psikologi tentang disleksia

Klasifikasi[ sunting sunting sumber ] Di peringkat antarabangsa, disleksia tidak memiliki definisi tunggal, bagaimanapun ia diterima secara umum sebagai gangguan kognitif yang berkaitan dengan membaca dan bersuara. Lebih daripada tujuh puluh nama yang berkaitan yang digunakan untuk menggambarkan manifestasinya, pencirian atau sebab-sebab. Persekutuan Neurologi Dunia mentakrifkan disleksia sebagai "gangguan yang ditunjukkan melalui kesukaran dalam pembelajaran untuk membaca walaupun menerima arahan konvensional, kecerdasan yang mencukupi dan peluang sosiobudaya". Takridan bagi masalan ini, ditakrifkan sebagai disleksia, merangkumi beberapa kelemahan kemahiran membaca, dan kesukaran berpunca dari beberapa sebab dan bukan hanya oleh satu keadaan. Hipotesis dwilaluan untuk membaca dengan kuat ini mencadangkan jawapan untuk pembacaan bercelaru, termasuk kedua-dua disleksia didapati dan yang diwarisi. Lambat membaca dan mempunyai tulisan tangan yang buruk. Ketika membaca, sering mengurang dan menambah pada sesuatu perkataan.

Related Articles